Senin, 29 Oktober 2012

KOPERASI

1. Sebelum kami bisa mewancarai atau mensurvey sebuah koperasi kami telah mendatangi 3 koperasi yg semua hasilnya nihil atau tidak di kasih izin.
 * Koperasi yg pertama  kami mendatangi nya dan menemui salah satu pengurusnya dan mereka tidak memberikan izin kepada kami untuk kami wawancarai dengan alasan tidak ada surat penghantar.
*  Koperasi yang kedua kami mendatanginya dan hasilnya sama kami tidak dapat mewancarai dengan alasan pengurus yg kami maksud belum datang ke kantor.
* Koperasi yang ketiga pun sama tidak dapat kami wawancarai karena kami tidak ada surat penghantar nya.
Sampe yang ke koperasi ke 4 kalinya kami akhirnya dapat mewancarai , di salah satu koperasi x di bogor kami dapat mewancarai dan memperoleh informasi tapi kami nggak bisa kami dapatkan informasi yang intern.

2. Dari koperasi yang kami wawancarai termasuk koperasi simpan pinjam,
  dari apa yang kami dapatkan dari wawancarai dengan koperasi x di bogor dapat kami simpulkan bahwa apa yang terjadi di lapangan koperasi sama dengan teori yaitu yg tercantum di UU NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN.

Sabtu, 21 April 2012

noun clause


Noun Clause adalah anak kalimat yang berfungsi sebagai kata benda
Rumus :
Conjunction + S + Predicate + ……. (Obyek)

Yang dapat dijadikan kata penghubung (conjunction) adalah
semua question word , if atau whether.

contoh :

1. I want to know WHERE THEY COME FROM.
2. Ask someone WHAT TIME IT IS.
3. Do you know WHY THEY HAVEN’T ARRIVED YET?
4. Can you tell me WHETHER (IF) THEY WILL COME?
5. I know WHETHER (IF) THEY STUDIED IN A GROUP.
6. Where she is now is still unknown.
7. When they arrive is still uncertain
8. I know what you did last summer and I still know what you did last summer are two         Hollywood movies starred by Jennifer Love Hewitt.
9. I think you whom Mr. Dodi was looking for.
10. Mr. Dodi, who is a teacher, was looking for you at school.

tugas sofstkil b.inggris 2

Contoh soal direct and indirect speech
1.shanty    : mom, when will you go to malang?
  mother's : tomorrow morning.
  shanty asked mother . . .
a. when she was going to malang
b. when she goes to malang
c. when did she go to malang
d. when she would go to malang

jawaban D adalah benar untuk melengkapi kalimat karena soal tentang kalimat tidak langsung(indirect speech) sehingga menjadi past future tense dari kalimat langsung(direct speech) yg berpola present future tense.

2. the teacher asked me . . . with headmaster
   a. how was my appointment
   b. did i have an appointment
   c. whether i had an appointment
   d. when is my appointment

jawaban C adalah benar untuk melengkapi kalimat soal tentang kalimat tdk langsung(indirect speech) yg menjadi kalimat pernyataan berpola simple past tense dan mendapatkan imbuhan kata whether.

3. father said, " do you have a homework today ". Father asked  . . . . .
   a. whether he have a homework today
   b. whether i had a homework that day
   c. when i had a homework
   d. do i have a homework today

jawaban B adalah benar umtuk melengkapi kalimat karena soal tentang indirect speech berpola simple past tense dari kalimat direct speech berpola simple present tense. Jadi perubahannya yg terjadi adalah pd tensenya, keterangan waktu today menjadi that day dan mendapat tambahan kata whether.
4. ali   : Did you know what fingo said yesterday?
   deni : of course. He said . . . . the previous day.
  a. had gone to his country            c. he will go to his country
  b. he has gone to hisa country      d. he went to his country

jawaban A ( kalau kalimat langsung/direct simple past, indirect/tdk langsung harus past perfect)

5.
 Teacher : Why was Mary absent yesterday?
   
Jenifer   : What did the teacher want to know, Ferdy?
   
Ferdy     : he wanted to know . . . . .  a. if Mary was absent       d. why Mary had been absent
  b. why Mary was absent   c. why was Mary absent

jawaban D (direct berbentuk Wh-question bentuk past tense jadi indirec berbentuk past perfect)

6.
Mother   : Don’t be so noisy, Herman. The baby is sleeping.
    Herman  : Okay, mom.

    Rudy      : What did your mother just told you?

    Herman  : She told me . . . .because the baby was sleeping.
  a. I wasn’t so noisy   b. not to be so noisy     c. don’t be noisy        d. I am very noisyJawaban : B (direct: don’t + be maka indirect: not + to be)

7. Doctor   : Open your mouth!
   
Mother  : What did the doctor tell you?   
    Son       : The doctor told me. . . .
   a. that I open his mouth   b. if I opened my mouth  
   c. to open my mouth
          d. to open my mouth
Jawaban : D (direct: V1 + O maka direct: to V1 + O)
  

8. Mother : Do you want meatballs or fried chicken?
    Mother asked me. . . .  a. whether I wanted meatball or fried shicken  b. whether I want meatball or fried chicken  c. that I wanted meatball or fried chicken        d. that I want meatball or fried chickenJawaban: A (direct: do/does + S +V1 maka indirect: if/whether + S + V2

9. which of the following statement is TRUE about direct positive imperative  :
a. close the window, please !                 c. she asked him to be dilligent
b. he told me to close the window          d. he requested me me to listen this news

Jawaban A ( pola direct positive imperative bentuk kalimat perintah tanpa not " to+verb1)

10. which of the following statement is TRUE about indirect negative imperative :
a. don't be angry !               c. he told me not to be angry
b. don't read this letter !      d. listen this news please !

Jawaban C (kata kerja diawali don't maka kata kerja negatifnya berubah bentuk menjadi "not" dan di ikuti infinitive dgn to)

11. Alex : I am a student.
      Bob : What did Alex say, Andy?
      Andy : . . . .
a. Alex said that he was a student.   c. Alex say a student 
b. Alex is a student.                        d. Alex said he a student

jawaban A karena kalimat tak langsung bersifat mengulang dlm bentuk past tense.

12. “My mother has invited you to our home” Puspa said.
       a. puspa say that her mother has invit me to their house              c. puspa invited you to her house
       b. puspa said that her mother had invited me to their house        d. puspa said has invited you to their house

Jawaban B yg benar karena mengalami perubahan tense direct-indirect
13. Sicilia said “don’t touch me!”
      tery : . . . . .
a. sicilia asked me not to touch her.     c. sicilia ask to me don't touch her
b. she asked me not to touch her         d. she was asked me not touch her

jawaban A benar karena mengalami perubahan tense dr direct ke indirect

14. “can you answer the question?” He asked.
        me : . . . .?
a. he ask me if i answer the question                        c. he asked me if answer question
b. he asked me if I could answer the question.     d. he ask me answer the question

jawaban B P+S+C  Introductory sentence+if/wether+S+P

15. he asked “ what is your job!
      me :  . . . . . ?
a. he ask me what my job.      c. he asked me what my job was
b. he ask me my job                d. he ask me that my job

Jawaban C karena merubah direct ke indirect wh question


 

Senin, 02 Januari 2012

entah jadi apa

Ibuku ingin aku jadi dokter gigi..
Biar banyak pasien penghasilanpun tinggi ..
Bapak inginku jadi priayi berdasi
Dapat tempat basah juga cari posisi ..

Entah aku nanti jadi apa..?
Entah aku jadi apa saja (terserah)
Asal.. kecil bersuka dan muda terkenal..
Tua kaya raya mati masuk surga ..

Guruku ingin aku jadi politikus ..
Atau jadi jaksa yang pinter bongkar kasus ..
Kakek ingin aku jadi bandar beras ..
Punya banyak pasar laba smakin keras .

" slank"

pendidikan negeri ini

pendidikan dari pinggiran.. posted by Hasnan Bachtiar.

oleh Widad Dalil Ad-da'im pada 16 Oktober 2011 pukul 10:56
MARI kita saksikan pendidikan negeri ini, dari dekat sekali. Akan kita temui pendidikan sehari-hari yang terjadi dan berulang, tanpa ujung pangkal yang jelas. Mendidik bak merindukan rembulan. Karena aktivitas pendidikan adalah ide-ide yang disodorkan para penguasa kebijakan, yang sejatinya mengabaikan realitas sosial yang sesungguhnya.
Kalau sudah begitu, pendidikan yang memberikan “jarak” dari kehidupan, menjadi semacam kematian pendidikan. Hal ini jauh dari segala tujuan yang mendasar, yaitu mengajarkan kehidupan dan praktik hidup yang baik, yang paling nyata. Padahal semestinya, pendidikan itu urip lan nguripi. Pendidikan itu kehidupan dan bagaimana menghidupi atau bertahan hidup (N.V.S. Grundtvig, Selected Writings. 1976: 140-41).
Disadari atau tidak, penguasa kebijakan pendidikan saat ini adalah penganut idealisme. Menetapkan ide-ide kepada guru-guru yang polos. Sedangkan imbasnya, siswa didik ikhlas menerima dengan legawa, serangkaian takdir pendidikan yang nestapa.
Sebenarnya, ide-ide pendidikan adalah kreativitas komunitas intelektual (Jakarta), yang tidak tahu-menahu pasal kebutuhan hidup yang paling nyata. Dengan kata lain, “pinggiran Indonesia” yang sangat luas, sejumlah lebih dari 240 juta jiwa, 18.000 pulau-pulau dan multikultural, dianggap “kurang berpengetahuan” oleh sekelompok kecil orang. Paling tidak, tersingkir potensi intelektualnya.
Ada ilustrasi kasuistik, di mana pendidikan kita, memang berjarak sangat jauh dengan realitas keseharian manusia yang hidup. Seorang anak sekolah dasar sepulang sekolah seperti berputus-asa, karena merasa menjadi manusia yang tak berguna. Mengadu pada orangtuanya, untuk apa belajar tata negara yang sangat rumit kalau itu memang tidak diperlukan. “Untuk wawasan,” tutur pengajarnya. Terlalu muluk dan idealistis kalau itu benar adanya. Ini belum soal kerumitan moral dan politik bangsa yang berwajah muram.
Pada matapelajaran sejarah pun demikian. Apakah anak didik hendak diajar untuk tahu dan mengambil makna dari sejarah? Tentu tidak. Karena banyak hal tidak dibicarakan secara jujur. Soal sejarah Indonesia yang mestinya kita “terbuka” bahwa Indonesia setiap zaman hanya menanggung beban penjajahan dan penderitaan. Padahal, sejarah bukan hanya masa lalu, namun masa kini dan masa depan.
Pelajaran bahasa Indonesia mengalami nasib yang sama. “Adik-adik belajar apa, di kelas Bahasa Indonesia?” Jawab mereka, “Kami belajar majas sinekdoke totem pro pars, ini, itu dan besok harus hafal seratus deret teori dan konsep lainnya?” Luar biasa. Memang jauh dari tujuan berbahasa Indonesia yang baik. Semestinya sederhana yang harus ditata, yaitu berbudaya berbahasa santun dan bisa mengarang. Lagipula ini belum termasuk kesantuan keseharian di daerah masing-masing.
Tidak berbeda dengan pengajaran disiplin ilmu sosial lainnya, yang terangkum sebagai Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Seolah antropologi, ekonomi, geografi, hukum, pendidikan, politik, sejarah dan sosiologi, wajib ditelan matang oleh anak sekolahan. Jelas, terjadi penyederhanaan besar-besaran ilmu sosial dan humaniora menjadi IPS. Para intelektual ibu kota yang mengaku pakar, bukan tidak paham kalau yang mendesak diambil manfaatnya dari ilmu sosial, hanyalah solusi bagi masalah sosial yang sedang terjadi. Akan dianggap lucu kiranya ada yang mengusulkan, IPS diganti dengan matapelajaran “bertahan hidup di jalanan” bagi siswa didik anak jalanan.
Potret masyarakat dari dekat inilah, yang gagal dipahami bersama. Lagipula ini bukan sekedar persoalan metode pengajaran, tetapi juga filsafat pendidikan, kebudayaan, struktur kekuasaan dan kebijakan publik.
Pemilik kebijakan bekerja atas dasar kejar deadline atau sekedar menggugurkan kewajiban. Sementara itu, para pendidik mendapat permakluman, seolah mereka tak berdaya dengan garis-garis ketentuan kekuasaan. Imbasnya, putra putri masa depan bangsa terlahir sebagai manusia-manusia tukang pasrah (fatalis) dan tidak mampu survive menantang zaman. Dalam bahasa WS. Rendra, pendidikan di Indonsia seperti pabrik yang memproduksi “angkatan pongah”, karena tidak menguasai tata buku masa lalu dan tata buku masa depan.
Tidak bisa dipungkiri, kerumitan masalah bangsa turut menggilas kemanusiaan pemerintah. Khususnya mereka yang berkecimpung di dunia didik-mendidik. Mungkin hal ini dihitung sebagai faktor eksternal. Namun hingga hari ini, bangsa ini penuh dengan ilmuan pendidikan yang alpa filsafat pendidikan. Ujung-ujungnya, paradigma idealisme menjadi semacam penyakit yang mewabah di seluruh lini pendidikan.
Sudah lama sekali, Indonesia tidak punya pedagog kritis. Tidak ada ahli kebudayaan, kemanusiaan dan pendidikan sekaligus, yang bisa menjadi rujukan seluruh umat pendidikan. Kalaupun ada, maka penguasa belum berkenan, karena tidak bisa mendatangkan keuntungan secara instan. Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, YB. Mangunwijaya, hingga HAR Tilaar beserta ajaran-ajarannya hanya menjadi buku-buku yang lapuk dan tidak populer.
Seandainya mau jujur dengan hati yang terdalam, para pedagog sekaligus pejuang kemanusiaan ini adalah guru-guru di daerah-daerah dan kita semua. Seluruh pendidik, barangkali nuraninya memahami atas “apa yang paling dibutuhkan dan memanusiakan manusia” bagi anak didiknya. Berkawan, bersahabat, dan belajar dari peserta didik dan lingkungan sekitar sehari-hari, adalah kependidikan yang sejati.
Pedagogi kemanusiaan adalah mendidik tanpa jarak. Kita tidak perlu garis-garis besar pendidikan dari penguasa, karena tidak ada yang paling pintar di antara manusia satu sama lain. Di hadapan ilmu, semua manusia adalah murid. Dengan demikian, paradigma idealisme pendidikan hendaknya dirubah. Sentralitas pola pikir idealisme yang diterapkan dengan mengabaikan realitas materialistik, diubah dengan menitikberatkan kependidikan pada soal-soal keseharian lingkungan sosial yang paling sederhana.
Kiranya, usulan gagasan ini adalah strategi kebudayaan, yaitu memahami manusia dan pendidikan secara fenomenologis atau dari jarak terdekatnya. Jika pendidikan menjadi bagian dari kebudayaan setempat, akan memberi sumbangan yang besar yang paling nyata. Ruh keindonesiaan, kepemimpinan, kesantunan, pikiran yang positif dan optimis, serta gairah hidup yang tinggi, dapat dijadikan sebagai isi dalam mengiringi aktivitas kependidikan ini.
Jika ada pertanyaan, “Apakah Indonesia telah gagal?” Kita akan dengan tegas menjawab, “Indonesia akan berhasil.” Kerumitan problem kebangsaan, akan berangsur pulih melalui pendidikan, asal juga menggeser paradigma filsafat pendidikan idealistik-postif, menjadi fenomenologis-humanistik.
Sebagai penutup dari tulisan ini, seorang filsuf India kontemporer, Gayatri Chakravorty Spivak (1988: 271-313), pernah mengajukan problem bahwa, “Dapatkah pinggiran berbicara?” Sebenarnya, justru pinggiranlah yang mestinya didengarkan. Karena itu, dari pinggiran, Indonesia menjadi kuat.


"widad dalil da'im"

bingkisan untuk ibu

Selaksa do'a kuucapkan kala kukenang segala bakti,secawan air mata kupersembahkan dikala rindukan sentuhanmu..
Ingin menangis di pangkuanmu kala kutemukan segala rintang, ingin kurebah dalam pangkuanmu dikala rindukan kedamaian..
Kau ajarkanku arti KEHIDUPAN,kau perlihatkan arti PERJUANGAN..! Wahjahmu pancarkan suatu keikhlasan..tuturmu alunkan suatu ketulusan..baktimu belumlah dapat terbalaskan meskipun hayatku telah ku serahkan.
Keampunan-Nya kumohonkan atas segala kekurangan..do'a restumu selalu KUHARAPKAN sebagai BEKAL PERJUANGAN..!!!


"ikhtiarif s.s"

sinopsi Dikejar Bayang-bayang (1995) Marga T.

Sinopsis
Arbaleta terjebah hidup bersama Birin, menahankan siksaan jiwa dan raga, dengan harapan kelak Birin mau bergantian membiayai kuliahnya yang terputus. Tapi Birin ingkar janji. Setelah dia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan uang Arbaleta, dia tak mengizinkan gadis itu melanjutkan kuliah. Alasannya, sudah punya anak. Sedangkan bagi Arlet anak saja tak cukup. Dia ingin jadi Dokter.

Ketika Arlet mau memaksakan kehendaknya, Birin menculik Fadian, anak mereka, dan menghilang. Tujuh tahun lamanya Arbaleta merindukan anaknya, yang tak tahu harus dicarinya ke mana.

Ketika akhirnya Arlet bertemu kembali dengan Birin, kini Birin atasan Arlet di rumah sakit, Birin melarangnya menemui anak itu… kecuali dia mau kembali padanya! Arbaleta menolak. Dia tak bisa melupakan siksaan dan penghinaan yang pernah dilakukan Birin terhadapnya.

Hati Arlet terpecah dua. Dia ingin sekali mendapatkan putranya, tapi tak ingin hidup bersama ayah anak itu… Sementara itu, seorang yang kini sangat dicintainya juga sudah menunggu kedatangan Arlet di negeri Sakura…